Sepasang suami-istri mendatangi seorang Konselor Kristen untuk meminta nasehat. Tidak lama kemudian setelah mereka duduk, dan terlibat dalam debat serius yang saling mengkritik. Ketika mereka berhenti sejenak untuk mengambil nafas, Konselor menganjurkan agar saat itu juga mereka saling mengatakan hal-hal positif yang mereka temukan ada dalam diri pasangannya. Merekapun terdiam sesaat.
Kemudian kepada mereka masing-masing diberikan sebuah pena dan secarik kertas dan diminta untuk menuliskan sesuatu yang pantas disanjung dalam diri pasangannya. Tidak satupun dari mereka yang menulis. Mereka hanya duduk dan menatapi kertas itu. Setelah beberapa saat suami mulai menuliskan sesuatu. Kemudian, sang istri juga menyusul menuliskan sesuatu, tapi dengan cepat dan geram.
Akhirnya mereka berhenti menulis. Suasana kembali hening. Sang istri lalu menyerahkan kertasnya kepada Konselor. Konselor itu menyerahkannya kembali dan memberikan isyarat agar ia menyerahkannya secara langsung kepada suaminya. Dengan penuh keengganan iapun menyorongkan kertas itu menyeberang sampai ke tengah meja. Sang suami segera menyambarnya dan sebaliknya, sang suamipun menyerahkan kertasnya kepada istrinya.
Secara bergantian, mereka mulai membaca isi kertas yang ditulis oleh pasangannya. Konselor hanya memperhatikan....... dengan segera air mata mengalir di pipi sang istri. Ia meremas-remas kertas dalam genggamannya dan mendekapnya dengan erat. Hal itu membuktikan bahwa ia sangat menghargai pengungkapan secara tiba-tiba tentang kebaikan-kebaikan dirinya oleh suaminya. Situasi seluruh ruangan mendadak berubah. Tidak ada sesuatupun yang perlu dikatakan lagi. Pujian yang diberikan oleh sang suami telah menyembuhkan seribu luka batin dalam dirinya. Suami-istri itupun lalu pergi meninggalkan Konselor itu sambil bergandengan tangan. Puji Tuhan.
Kasih
Other Link:
Tampilkan postingan dengan label Kasih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kasih. Tampilkan semua postingan
Jumat, 03 Juni 2011
Kasih Yang Tulus
"Kasih yang tulus, menjauhi dari kejahatan dan melakukan yang baik." Roma 12:9
Ayat ini mengingatkan kepada kita bahwa dalam hal kasih, hendaklah kita tidak pura-pura. Rupanya ada banyak orang yang dalam mengasihi penuh dengan kepura-puraan. Maka jangan heran bila ada cerita bahwa 2 orang yang bersahabat dengan baik, tapi kemudian yang seorang menipu yang lain. Orang itu dapat menipu karena dia dekat dengan korbannya dan dia berhasil berpura-pura mengasihi korbannya sehingga korbannya itu percaya kepadanya.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, perasaan curiga atau tidak bisa percaya dengan begitu saja merupakan hal yang selalu kita pegang. Mengapa? Karena ternyata banyak sekali kasih yang diselimuti dengan pura-pura. Ada orang yang baru saja bertemu dengan kenalan baru, kemudian kenalan itu begitu baik hati dan menolongnya sehingga timbul rasa percaya dan perkenalanpun menjadi lebih erat. Namun dibalik itu semua ada kepura-puraan. Kasih yang diberikan tidak tulus, pasti ada maksud tertentu dibalik segala perbuatannya itu.
Firman Tuhan mengingatkan kepada kita, agar kita mempunyai kasih yang tulus, tidak pura-pura. Dengan demikian tidak sedikitpun tersirat keinginan untuk berbuat jahat, tetapi yang ada hanya melakukan perbuatan yang baik saja. Berat! Ya, kalau kita lakukan dengan kekuatan kita, tentu berat sekali, tapi bila kita mohon kekuatan dari Tuhan lewat Roh Kudus, maka kita akan mampu untuk melakukannya.
Dalam kasih yang tulus, tidak akan pernah berpikir sedikitpun untuk berbuat jahat dan yang ada hanya pikiran untuk berbuat baik senantiasa. Hal itu semua boleh jadi, karena kekuatan Allah lewat Roh KudusNya merupakan bagian dalam hidup kita. Tuhan Yesus memberkati.
Other Link:
Ayat ini mengingatkan kepada kita bahwa dalam hal kasih, hendaklah kita tidak pura-pura. Rupanya ada banyak orang yang dalam mengasihi penuh dengan kepura-puraan. Maka jangan heran bila ada cerita bahwa 2 orang yang bersahabat dengan baik, tapi kemudian yang seorang menipu yang lain. Orang itu dapat menipu karena dia dekat dengan korbannya dan dia berhasil berpura-pura mengasihi korbannya sehingga korbannya itu percaya kepadanya.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, perasaan curiga atau tidak bisa percaya dengan begitu saja merupakan hal yang selalu kita pegang. Mengapa? Karena ternyata banyak sekali kasih yang diselimuti dengan pura-pura. Ada orang yang baru saja bertemu dengan kenalan baru, kemudian kenalan itu begitu baik hati dan menolongnya sehingga timbul rasa percaya dan perkenalanpun menjadi lebih erat. Namun dibalik itu semua ada kepura-puraan. Kasih yang diberikan tidak tulus, pasti ada maksud tertentu dibalik segala perbuatannya itu.
Firman Tuhan mengingatkan kepada kita, agar kita mempunyai kasih yang tulus, tidak pura-pura. Dengan demikian tidak sedikitpun tersirat keinginan untuk berbuat jahat, tetapi yang ada hanya melakukan perbuatan yang baik saja. Berat! Ya, kalau kita lakukan dengan kekuatan kita, tentu berat sekali, tapi bila kita mohon kekuatan dari Tuhan lewat Roh Kudus, maka kita akan mampu untuk melakukannya.
Dalam kasih yang tulus, tidak akan pernah berpikir sedikitpun untuk berbuat jahat dan yang ada hanya pikiran untuk berbuat baik senantiasa. Hal itu semua boleh jadi, karena kekuatan Allah lewat Roh KudusNya merupakan bagian dalam hidup kita. Tuhan Yesus memberkati.
Other Link:
Langganan:
Postingan (Atom)